Senin, 19 Juli 2010

ASKEP DIARE


LAPORAN PENDAHULUAN
DENGAN KLIEN DIARE

DEFINISI
Diare adalah buang air besar (defekasi)  dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengan padat, dapat disertai frekuensi yang meningkat.
Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari.

ETIOLOGI
1.    Faktor infeksi :
Bakteri ( Shigella, Shalmonella, Vibrio kholera), Virus (Enterovirus), parasit (cacing), Kandida (Candida Albicans).
2.    Faktor parentral :
Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering terjadi pada anak-anak).
3.    Faktor malabsorbsi :
Karbihidrat, lemak,  protein.
4.    Faktor makanan :
Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran dimasak kutang matang.
5.    Faktor Psikologis :
Rasa takut, cemas.

PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
1.    Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2.    Gangguansekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.
3.    Gangguanmotilitasusus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.

TANDA DAN GEJALA
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasanKussmaul).
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.    Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan
2.    Kultur tinja
3.    Pemeriksaan elektrolit; BUN, creatinine, dan glukosa
4.    Pemeriksaan tinja; pH, lekosit, glukosa, dan adanya darah

TERAPI MEDIS
1.    Penanganan fokus pada penyebab
2.    Pemberian cairan dan elektrolit; oral (seperti; pedialyte atau oralit) atau terapi parenteral
3.    Pada bayi, pemberian ASI diteruskan jika penyebab bukan dari ASI

BASIC PROMOTING PHYSIOLOGY OF HEALTH
Nutrisi
1.    Definisi
Proses pengambilan zat-zat makanan penting
2.    Nilai-Nilai Normal
Pengukuran berat badan ideal adalah mengacu ke berat lemak tubuh, yaitu :
Body Mass Index (BMI) = berat badan (kg) dibagi tinggi badan (meter) kuadrat, di mana nilai :
18-24.9 = berat normal
25-29.9 = kelebihan berat
30-34.9 = obesitas kelas 1
35-39.9 = obesitas kelas 2
>40 = obesitas ekstrim
3.    Pengkajian
a.    Data dasar nutrisi
o   Fisiologis
o   Psikologis
o   Sosio budaya
o   Perkembangan
o   Spiritual
b.   Mengkaji status nutrisi dengan “ABCD”
A  :  Antropometri measurement
B  :  Biochemical data
C  :  Clinical sign
D  :  Dietary history
c.   Status nutrisi ditentukan
o   Ada dan berapa banyak yang dimakan. Bagaimana kualitas zat gizi
o   Kemampuan tubuh untuk menggunakan zat gizi
o   Keadaan individu sebagai akibat dari intake nutrisi
4.    Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Intake nutrisi yang adekuat
5.    Intervensi Keperawatan
1.    Kaji faktor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum
2.    Hitung kebutuhan nutrisi perhari
3.    Observasi tanda-tanda vital
4.    Catat intake makanan
5.    Timbang berat badan secara berkala
6.    Kolaborasi dengan ahli gizi

Cairan, elektrolit dan asam basa
a.    Definisi
     Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Keseimbangan cairan adalah esensial bagi kesehatan. Dengan kemampuannya yang sangat besar untuk menyesuaikan diri, tubuh mempertahankan keseimbangan, biasanya dengan proses-proses faal (fisiologis) yang terintegrasi yang mengakibatkan adanya lingkungan sel yang relatif konstan tapi dinamis. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan ini dinamakan “homeostasis”.
b.   Nilai-Nilai Normal
Umur
ml
ml / kg BB
3 hari
2500 – 3000
120 – 135
1 tahun
1150 – 1300
120 – 135
2 tahun
1350 – 1500
115 – 125
4 tahun
1600 – 1800
100 – 110
10 tahun
2000 – 2500
70 – 85
14 tahun
2200 – 2700
50 – 60
18 tahun
2200 – 2700
40 – 50
Dewasa
2400 – 2600
20 – 30

c.   Pengkajian
Observasi / temuan :
1.    Nadi cepat dan lemah
2.    Tensi darah menurun
3.    Kulit dingin dan lembab
4.    Diare
5.    Kembung
6.    Otot lemah
7.    Aritmia
8.    Bisisng usus menurun
9.    Kesemutan pada jaringan dan mulut
10. Oliguria
11.  Respiration rate menurun
d.   Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Pengeluaran cairan dan elektrolit yang adekuat.
e.    Intervensi Keperawatan
1.    Kaji terhadap tanda dehidrasi
2.    Pertahankan cairan parenteral dengan elektrolit
3.    Ukur masukan dan haluaran
4.    Pantau tanda vital setiap jam
5.    Kolaborasi

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau output berlebihan dan intake yang kurang
2.    Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare.
3.    Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap diare
4.    Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi diare.
5.    Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB menurun terus menerus.

RENCANA KEPERAWATAN
1.    Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare
     Intervensi :
a.    Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
Rasional : Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit
b.   Pantau intake dan output
Rasional : Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
c.   Timbang berat badan setiap hari
Rasional : Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt
d.   Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
e.    Kolaborasi :
1)     Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
Rasional : Koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).
2)    Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
3)     Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
Rasional : Anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.

  2.        Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan out put
Intervensi :
a.    Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
Rasional : Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.
b.   Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
Rasional : Situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
c.    Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
Rasional : Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan
d.   Monitor  intake dan out put dalam 24 jam
Rasional : Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
e.    Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
o   terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu
o   obat-obatan atau vitamin ( A)
    Rasional : Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan.

  3.      Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare
Intervensi :
a.    Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
Rasional : Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh (adanya infeksi)
b.   Berikan kompres hangat
Rasional : merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh
c.   Kolaborasi pemberian antipirektik
Rasional : Merangsang pusat pengatur panas di otak

  4.      Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan   peningkatan frekwensi BAB (diare)
       Intervensi :
a.    Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur
Rasional : Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman
b.   Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)
Rasional : Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces
c.   Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
Rasional : Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan irirtasi .

DAFTAR PUSTAKA
Bates. B, 1995. Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan.  Ed 2. EGC. Jakarta
Carpenitto.LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6. EGC. Jakarta.
Lab/ UPF IKA, 1994.  Pedoman Diagnosa dan Terapi .  RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.
Markum.AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Ngastiyah. 1997.  Perawatan Anak sakit. EGC. Jakarta
Soetjiningsih, 1995.  Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta
Suryanah,2000.  Keperawatan Anak.  EGC. Jakarta
Doengoes,2000. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi. EGC. Jakart





    


Selasa, 13 Juli 2010

RETARDASI MENTAL PADA ANAK

RETARDASI MENTAL

A. Pengertian
Retardasi mental (RM) adalah suatu keadaan dimana seseorang memiliki kemampuan mental yang tidak mencukupi (WHO). Retardasi mental adalah kelainan fungsi intelektual yang subnormal terjadi pada masa perkembangan dan berhubungan dengan satu atau lebih gangguan dari maturasi, proses belajar dan penyesuaian diri secara sosial. RM adalah suatu keadaan yang di tandai dengan fungsi intelektual berada di bawah normal, timbul pada masa perkembangan/dibawah usia 18 tahun, berakibat lemahnya proses belajar dan adaptasi sosial.
Retardasi mental diartikan sebagai kelemahan/ketidakmampuan kognitif muncul pada masa kanak-kanak (sebelum usia 18 tahun) ditandai dengan fungsi kecerdasan di bawah normal (IQ 70 – 75 atau kurang), dan disertai keterbatasan lain pada sedikitnya dua area berikut :berbicara dan berbahasa;ketrampilan merawat diri, ADL; ketrampilan sosial; penggunaan sarana masyarakat; kesehtan dan keamanan; akademik fungsional; bekerja dan rileks, dll.

B. Etiologi
Kelainan ini dapat digolongkan menjadi :
1. Penyebab organik
a. Faktor prenatal :
1) Penyakit kromosom (Trisomi 21/ Sindrom Down)
2) Sindrom Fragile X
3) Gangguan Sindrom (distrofi otot Duchene, neurofibromatosis ( tipe 1)
4) Gangguan metabolisme sejak lahir (Fenilketonuria)
b. Faktor perinatal :
1) Abrupsio plasenta
2) Diabetes maternal
3) Kelahiran prematur
4) Kondisi neonatal termasuk meningitis dan perdarahan intracranial
c. Faktor pasca natal :
1) Cedera kepala
2) Infeksi
3) Gangguan degeneratif
2. Penyebab non organik
a. Kemiskinan dan keluarga tidak harmonis
b. Sosial cultural
c. Interaksi anak kurang
d. Penelantaran anak
3. Penyebab lain : keturunan, pengaruh lingkungan dan kelainan mental lain
Retardasi mental dapat juga disebabkan oleh gangguan psikiatris berat dengan deviasi psikososial atau lingkungan ( Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Jakarta )

C. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis retardasi mental antara lain :
1. Gangguan kognitif (pola, proses pikir)
2. Lambatnya ketrampilan ekspresi dan resepsi bahasa
3. Gagal melewati tahap perkembangan yang utama
4. Lingkar kepala diatas atau dibawah normal (kadang-kadang lebih besar atau lebih kecil dari ukuran normal)
5. Kemungkinan lambatnya pertumbuhan
6. Kemungkinan tonus otot abnormal (lebih sering tonus otot lemah)
7. Kemungkinan ciri-ciri dismorfik
8. Terlambatnya perkembangan motoris halus dan kasar

D. Patofisiologi
Retardasi mental merujuk pada keterbatasan nyata fungsi hidup sehari-hari. Retardasi mental ini termasuk kelemahan atau ketidakmampuan kognitif yang muncul pada masa kanak-kanak (sebelum usia 18 tahun) yang ditandai dengan fungsi kecerdasan di bawah normal (IQ 70 sampai 75 atau kurang) dan disertai keterbatasan-keterbatasan lain pada sedikitnya dua area fungsi adaftif : berbicara dan berbahasa, kemampuan/ketrampilan merawat diri, kerumahtanggaan, ketrampilan sosial, penggunaan sarana-sarana komunitas, pengarahan diri, kesehatan dan keamanan, akademik fungsional, bersantai dan bekerja. Penyebab retardasi mental bisa digolongkan kedalam prenatal, perinatal dan pasca natal. Diagnosis retardasi mental ditetapkan secara dini pada masa kanak-kanak.

E. Kriteria Diagnostik
Fungsi intelektual yang secara signifikan berada dibawah rata-rata . IQ kira-kira 70 atau kurang (untuk bayi penilaian klinis dari fungsi fungsi intelektual dibawah rata-rata). - Kekurangan atau kerusakan fungsi adaptif yang terjadi bersamaan (misalnya efektifitas seseorang dalam memenuhi harapan kelompok budayanya terhadap orang seusianya) dalam sedikitnya dua area berikut : komunikasi, perawatan diri , kerumahtanggaan, ketrampilan sosial dan interpersonal, penggunaan sarana-sarana masyarakat pengarahan diri, ketrampilan akademik fungsional , bekerja, bersantai , kesehatan dan keamanan. Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun.
Kode dibuat berdasarkan tingkat keparahan yang tercermin dari kerusakan inteletual :
317 Retardasi mental ringan (Tingkat IQ 50-55 sampai kira-kira 70)
318.0. Retardasi mental sedang (Tingkat IQ 35-40 sampai 50-55)
318 .1. Retardasi mental berat (Tingkat IQ 20-35 sampai 35-45)
318.2. Retardasi mental yang amat sangat berat (Tingkat IQ dibawah 20-25)
319 Retardasi mental dengan keperahan yang tidak disebutkan: jika
terdapat dugaan kuat adanya retardasi mental tetapi emintelligence orang tsb tidak dapat diuji dengan test Standar.

F. Komplikasi
1. Serebral palsy
2. Gangguan kejang
3. Gangguan kejiwaan
4. Gangguan konsentrasi /hiperaktif
5. Defisit komunikasi
6. Konstipasi

G. Uji Laboratorium dan Diagnostik
1. Uji intelegensi standar (stanford binet, weschler, Bayley Scales of infant development)
2. Uji perkembangan seperti DDST II
3. Pengukuran fungsi adaftif ( Vineland adaftive behaviour scales, Woodcock-Johnson Scales of independent Behaviour, School edition of the adaptive behaviour scales ).

H. Penatalaksanaan Medis
Berikut ini adalah obat-obat yang dapat digunakan :
1. Obat-obat psikotropika (tioridazin,Mellaril untuk remaja dengan perilaku yang membahayakan diri sendiri
2. Psikostimulan untuk remaja yang menunjukkan tanda-tanda gangguan konsentrasi/gangguan hyperaktif.
3. Antidepresan (imipramin/Tofranil)
4. Karbamazepin (tegrevetol) dan propanolol ( Inderal )

Pencegahan :
1. Meningkatkan perkembangan otak yang sehat dan penyediaan pengasuhan dan lingkungan yang merangsang pertumbuhan
2. Harus memfokuskan pada kesehatan biologis dan pengalaman kehidupan awal anak yang hidup dalam kemiskinan dalam hal perawatan prenatal, pengawasan kesehatan reguler dan pelayanan dukungan keluarga.

KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian terdiri atas evaluasi komprehensif mengenai kekurangan dan kekuatan yang berhubungan dengan ketrampilan adaptif; komunikasi, perawatan diri, interaksi sosial, penggunaan sarana-sarana di masyarakat pengarahan diri, pemeliharaan kesehatan dan keamanan, akademik fungsional, pembentukan ketrampilan rekreasi dan ketenangan

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d. kelainan fungsi kognitif
2. Gangguan komunikasi verbal b.d. kelainan fungsi kognitif
3. Risiko cedera b.d. perilaku agresif ketidakseimbangan mobilitas fisik
4. Gangguan interaksi social b.d. kesulitan bicara/ kesulitan adaptasi sosial
5. Gangguan proses keluarga b.d. memiliki anak retardasi mental
6. Deficit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas fisik /kurangnya kematangan perkembangan.

C. Intervensi
1. Kaji factor penyebab gangguan perkembangan anak
2. Indentifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi perkembangan anak yang optimal
3. Berikan perawatan yang konsisten
4. Tingkatkan komunikasi verbal dan stimulasi taktil
5. Berikan instruksi berulang dan sederhana
6. Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
7. Dorong anak melakukan perawatan sendiri
8. Manajemen perilaku anak yang sulit
9. Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
10. Ciptakan lingkungan yang aman

D. Pendidikan pada Orang Tua
1. Perkembangan anak untuk tiap tahap usia
2. Dukung keterlibatan orang tua dalam perawatan anak
3. Bimbingan antisipasi dan manajemen menghadapi perilaku anak yang sulit
4. Informasikan sarana pendidikan yang ada dan kelompok

E. Hasil yang diharapkan
1. Anak berfungsi optimal sesuai tingkatannya
2. Keluarga dan anak mampu menggunakan koping terhadap tantangan karena adanya ketidakmampuan
3. Keluarga mampu mendapatkan sumber-sumber sarana komunitas

DAFTAR PUSTAKA
Betz and Sowden, 2002, Buku saku keperawatan pediatri, EGC, Jakarta.

Gordon et.al, 2001, Nursing diagnoses : Definition & classification 2001-2002, Philadelpia USA

Nelson, 1994, Ilmu kesehatan anak, Jilid I,EGC, Jakarta.

Lusmilasari, L., 2002, Asuhan keperawatan klien dengan retardasi mental : Materi kuliah tidak di publikasikan, PSIK FK UGM, Jogjakarta

KEJANG DEMAM

KEJANG DEMAM

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain sebagai penerus keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya mengalami kejang demam. Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas disusul infeksi saluran pencernaan (Ngastiyah, 1997; 229).
Insiden terjadinya kejang demam terutama pada golongan anak umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3 % dari anak yang berumur di bawah 5 tahun pernah menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering didapatkan pada laki-laki daripada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena pada wanita didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan laki-laki (Sumijati, 2000;72-73).
Faktor yang penting pada kejang demam ialah demam, umur, genetik, riwayat prenatal, danperinatal. Demam pada kejang demam sering disebabkan oleh infeksi saluran nafas atas, otitis media, pnemunia, gastroenteritis, dan infeksi traktus urinarius. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang paling tinggi. Kadang-kadang pada demam yang tidak begitu tinggi sudah dapat menimbulkan kejang. Pada anak yang demikian biasanya mempunyai risiko tinggi terjadi kekambuhan kejang.
Peran perawat dalam menghadapi pasien dengan kejang saat pertama kali adalah mengidentifikasi atau mengkaji keaqdaan pasien dan kejang yang dialami pasien. Adanya informasi yang mendukung tegaknya diagnosa medis atau keperawatan sangat tergantung juga pada sekali mata saat kejang menyerang pasien (onset kejang). Data dari saksi tersebut dapat mendeskripsikan secara spesifik oleh perawat dan mempermudah penanganan pertama kali dalam menangani kedaruratan.

II. KONSEP TEORI
A. Pengertian
Kejang demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium (Ngastiyah, 1997:229).

B. Etiologi
Bangkitan kejang pada bayi dan anak disebabkan oleh kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan syaraf pusat misalnya : tonsilitis ostitis media akut, bronchitis, dll.

C. Tanda dan Gejala
Serangan kejang biasanya terjadi 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan kejang dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun sejenak tapi setelah beberapa detik atau menit anak akan sadar tanpa ada kelainan saraf.
Di Subbagian Anak FKUI RSCM Jakarta, kriteria Livingstone dipakai sebagai pedoman membuat diagnosis kejang demam sederhana, yaitu :
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun
2. Kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertamam setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya satu minggu sesudah suhu normal tidak menunjukkan kelainan
7. Frekuensi kejang bangkitan dalam satu tahun tidak melebihi empat kali

D. Pemeriksaan Diagnostik
Tergantung sarana yang tersedia dimana pasien dirawat, pemeriksaannya meliputi :
1. Darah
Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200 mq/dl)
BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro toksik
akibat dari pemberian obat.
Elektrolit : K, Na
Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang
Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )
2. Cairan Cerebo Spinal : Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda infeksi,
pendarahan penyebab kejang.
3. Skull Ray : Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi
4. Tansiluminasi : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB masih terbuka (di bawah
2 tahun) di kamar gelap dengan lampu khusus untuk transiluminasi kepala.
5. EEG : Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh untuk
mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal.
6. CT Scan : Untuk mengidentifikasi lesi cerebral infaik hematoma, cerebral oedem, trauma,
abses, tumor dengan atau tanpa kontras.

E. Penatalaksanaan
Dalam penanggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan, yaitu :
1. Pemberantasan kejang secepat mungkin
Pemberantasan kejang di Sub bagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI sebagai
berikut :
Apabila seorang anak datang dalam keadaan kejang, maka :
a. Segera diberikan diazepam intravena  dosis rata-rata 0,3 mg/kg
Atau
diazepam rectal dosis  10 kg : 5 mg
bila kejang tidak berhenti ≥ 10 kg : 10 mg
tunggu 15 menit

dapat diulang dengan cara/dosis yang sama
kejang berhenti

berikan dosis awal fenobarbital
dosis : neonatus : 30 mg I.M
1 bulan – 1 tahun : 50 mg I.M
 1 tahun : 75 mg I.M
b. Bila diazepam tidak tersedia, langsung memakai fenobarbital dengan dosis awal dan
selanjutnya diteruskan dengan dosis rumat.
2. Pengobatan penunjang
Pengobatan penunjang saat serangan kejang adalah :
a. Semua pakaian ketat dibuka
b. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
c. Usahakan agar jalan napas bebasuntuk menjamin kebutuhan oksigen
d. Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen
3. Pengobatan rumat
Fenobarbital dosis maintenance : 8-10 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari pertama, kedua
diteruskan 4-5 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari berikutnya.
4. Mencari dan mengobati penyebab
Penyebab kejang demam adalah infeksi respiratorius bagian atas dan astitis media akut.
Pemberian antibiotik yang adekuat untuk mengobati penyakit tersebut. Pada pasien yang
diketahui kejang lama pemeriksaan lebih intensif seperti fungsi lumbal, kalium, magnesium,
kalsium, natrium dan faal hati. Bila perlu rontgen foto tengkorak, EEG, ensefalografi, dll.

F. Komplikasi
1. Kejang berulang
2. Epilepsi
3. Hemiparese
4. Gangguan mental dan belajar

G. Prognosa
Penanggulangan yang tepat dan cepat prognosisnya baik dan tidak perlu menyebabkan
kematian, resiko seorang anak sesudah menderita kejang demam tergantung faktor :
1. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga
2. Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita kejang
3. Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal
4. Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor tersebut di atas, di kemudian hari akan
mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13 %, dibanding bila hanya terdapat satu
atau tidak sama sekali faktor tersebut, serangan kejang tanpa demam 2%-3% saja
(“Consensus Statement on Febrile Seizures 1981”).

III. KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa,
sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut. (Santosa. NI, 1989, 154).
Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan sintesa data
serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan
dan masalah kesehatan atau keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan
lingkungan pasien. Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga, teman, team kesehatan
lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Metode pengumpulan data melalui observasi (yaitu dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi,
perkusi), wawancara (yaitu berupa percakapan untuk memperoleh data yang diperlukan),
catatan (berupa catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang lama), literatur (mencakup
semua materi, buku-buku, masalah dan surat kabar).

Pengumpulan data pada kasus kejang demam ini meliputi :
1. Data subyektif
a. Biodata/Identitas
Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.
Biodata orang tua perlu dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi nama,
umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.
b. Riwayat Penyakit
1) Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan : Apakah betul ada
kejang ?
Diharapkan ibu atau keluarga yang mengantar dianjurkan menirukan gerakan kejang sianak
2) Apakah disertai demam ?
Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang, maka diketahui apakah
infeksi infeksi memegang peranan dalam terjadinya bangkitan kejang. Jarak antara
timbulnya kejang dengan demam.
3) Lama serangan
Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu berlangsung lama. Lama
bangkitan kejang kita dapat mengetahui kemungkinan respon terhadap prognosa dan
pengobatan.
4) Pola serangan
a) Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola serangan apakah
bersifat umum, fokal, tonik, klonik ?
b) Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran seperti epilepsi
mioklonik ?
c) Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai gangguan kesadaran seperti
epilepsi akinetik ?
d) Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi sementara tangan naik
sepanjang kepala, seperti pada spasme infantile ?
Pada kejang demam sederhana kejang ini bersifat umum.
5) Frekuensi serangan
Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa kejang terjadi untuk pertama
kali, dan berapa frekuensi kejang per tahun. Prognosa makin kurang baik apabila kejang
timbul pertama kali pada umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.
6) Keadaan sebelum, selama dan sesudah serangan
Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah aura atau rangsangan tertentu yang dapat
menimbulkan kejang, misalnya lapar, lelah, muntah, sakit kepala dan lain-lain. Dimana kejan
dimulai dan bagaimana menjalarnya. Sesudah kejang perlu ditanyakan apakah penderita
segera sadar, tertidur, kesadaran menurun, ada paralise, menangis dan sebagainya ?
7) Riwayat penyakit sekarang yang menyertai
Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya pada penderita epilepsi),
gagal ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA, Morbili dan lain-lain.
8) Riwayat penyakit dahulu
a) Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah penderita pernah
mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat kejang terjadi untuk pertama kali ?
b) Apakah ada riwayat trauma kepala, radang selaput otak, KP, OMA dan lain-lain.
9) Riwayat kehamilan dan persalinan
Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah mengalami infeksi atau sakit
panas sewaktu hamil. Riwayat trauma, perdarahan per vaginam sewaktu hamil, penggunaan
obat-obatan maupun jamu selama hamil. Riwayat persalinan ditanyakan apakah sukar,
spontan atau dengan tindakan (forcep/vakum), perdarahan ante partum, asfiksi dan
lain-lain. Keadaan selama neonatal apakah bayi panas, diare, muntah, tidak mau menetek,
dan kejang-kejang.
10) Riwayat imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan serta umur
mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi. Pada umumnya setelah mendapat
imunisasi DPT efek sampingnya adalah panas yang dapat menimbulkan kejang.
11) Riwayat perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :
a) Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial) : berhubungan dengan kemampuan
mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya.
b) Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati
sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan
dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan koordinasi yang cermat, misalnya menggambar,
memegang suatu benda, dan lain-lain.
c) Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
d) Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan
berbicara spontan.
12) Riwayat kesehatan keluarga.
a) Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (+ 25 % penderita kejang demam
mempunyai faktor turunan)
b) Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit syaraf atau lainnya?
c) Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ISPA, diare atau penyakit
infeksi menular yang dapat mencetuskan terjadinya kejang demam.
13) Riwayat sosial
a) Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan emosionalnya perlu dikaji siapakah yanh
mengasuh anak?
b) Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga dan teman sebayanya ?
14) Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
a) Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana ?
b) Pola kebiasaan dan fungsi ini meliputi :
(1) Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat
(2) Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan,
pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan tindakan medis?
(3) Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang diderita, pelayanan kesehatan yang
diberikan, tindakan apabila ada anggota keluarga yang sakit, penggunaan obat-obatan
pertolongan pertama.
15) Pola nutrisi
a) Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak. Ditanyakan bagaimana kualitas dan
kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh anak ?
b) Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak ? Bagaimana selera makan anak ? Berapa
kali minum, jenis dan jumlahnya per hari ?
16) Pola eliminasi
a) BAK : ditanyakan frekuensinya, jumlahnya, secara makroskopis ditanyakan bagaimana
warna, bau, dan apakah terdapat darah ? Serta ditanyakan apakah disertai nyeri saat anak
kencing.
b) BAB : ditanyakan kapan waktu BAB, teratur atau tidak ? Bagaimana konsistensinya
lunak,keras,cair atau berlendir ?
17) Pola aktivitas dan latihan
a) Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman sebayanya?
b) Berkumpul dengan keluarga sehari berapa jam?
c) Aktivitas apa yang disukai?
18) Pola tidur/istirahat
a) Berapa jam sehari tidur?
b) Berangkat tidur jam berapa?
c) Bangun tidur jam berapa?
d) Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang ?
2. Data Obyektif
a. Pemeriksaan Umum
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi,
respirasi dan suhu. Pada kejang demam sederhana akan didapatkan suhu tinggi sedangkan
kesadaran setelah kejang akan kembali normal seperti sebelum kejang tanpa kelainan
neurologi.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala
Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah dispersi bentuk kepala? Apakah
tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun besar cembung, bagaimana
keadaan ubun-ubun besar menutup atau belum ?.
2) Rambut
Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut. Pasien dengan
malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang, kemerahan seperti rambut
jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada pasien.
3) Muka/ wajah
Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang paresis tertinggal bila anak
menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik ke sisi sehat. Adakah tanda rhisus
sardonicus, opistotonus, trimus ? Apakah ada gangguan nervus cranial ?
4) Mata
Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan ketajaman
penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva ?
5) Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya infeksi seperti
pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga, keluar cairan dari telinga,
berkurangnya pendengaran.
6) Hidung
Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan napas? Apakah
keluar sekret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya?
7) Mulut
Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana keadaan lidah? Adakah
stomatitis? Berapa jumlah gigi yang tumbuh? Apakah ada caries gigi?
8) Tenggorokan
Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda infeksi faring, cairan
eksudat?
9) Leher
Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid ? Adakah pembesaran vena
jugulans ?
10) Thorax
Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan, frekwensinya,
irama, kedalaman, adakah retraksi intercostale? Pada auskultasi, adakah suara napas
tambahan ?
11) Jantung
Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ? Adakah bunyi tambahan ?
Adakah bradicardi atau tachycardia ?
12) Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ? Bagaimana turgor kulit
dan peristaltik usus ? Adakah tanda meteorismus? Adakah pembesaran lien dan hepar ?
13) Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah terdapat oedema,
hemangioma ? Bagaimana keadaan turgor kulit ?
14) Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi kejang? Bagaimana
suhunya pada daerah akral ?
15) Genetalia
Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina, tanda-tanda infeksi ?

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti tentang masalah
pasien/klien serta penyebabnya yang dapat dipecahkan atau diubah melalui tindakan
keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah :
1. PK kejang berulang
2. Risiko trauma dengan faktor risiko kurangnya koordinasi otot/kejang
3. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi kuman
4. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi yang
ditandai : keluarga sering bertanya tentang penyakit anaknya.

C. Rencana keperawatan
Perencanaan merupakan keputusan awal tentang apa yang akan dilakukan, bagaimana, kapan
itu dilakukan, dan siapa yang akan melakukan kegiatan tersebut. Rencana keperawatan yang
memberikan arah pada kegiatan keperawatan (Santosa, 1989;160).

Diagnosa Keperawatan : PK : kejang berulang berhubungan dengan hipertermi
Tujuan : Perawat mampu mengontrol dan mencegah terjadinya kejang.
Kriteria hasil :
1. Tidak terjadi serangan kejang ulang.
2. Suhu 36,5 – 37,5 º C (bayi), 36 – 37,5 º C (anak)
3. Nadi 110 – 120 x/menit (bayi)
100-110 x/menit (anak)
4. Respirasi 30 – 40 x/menit (bayi)
24 – 28 x/menit (anak)
5. Kesadaran composmentis
Rencana Tindakan :
1. Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap keringat.
Rasional : proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang ketat dan tidak menyerap
keringat.
2. Berikan kompres hangat
Rasional : perpindahan panas secara konduksi
3. Berikan ekstra cairan (susu, sari buah, dll)
Rasional : saat demam kebutuhan akan cairan tubuh meningkat.
4. Observasi kejang dan tanda vital tiap 4 jam
Rasional : Pemantauan yang teratur menentukan tindakan yang akan dilakukan.
5. Batasi aktivitas selama anak panas
Rasional : aktivitas dapat meningkatkan metabolisme dan meningkatkan panas.
6. Berikan anti piretika dan pengobatan sesuai advis.
Rasional : Menurunkan panas pada pusat hipotalamus dan sebagai profilaksis

Diagnosa Keperawatan : Risiko trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi
otot/kejang
Tujuan : Risk detection.
Kriteria Hasil :
1. Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
2. Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktivitas kejang.
3. Mengidentifikasi tindakan yang harus diberikan ketika terjadi kejang.
4. Pengetahuan tentang risiko
5. Memonitor faktor risiko dari lingkungan
Rencana Tindakan : NIC : Pencegahan jatuh
1. Beri pengaman pada sisi tempat tidur dan penggunaan tempat tidur yang rendah.
Rasional : meminimalkan injuri saat kejang
2. Tinggalah bersama klien selama fase kejang..
Rasional : meningkatkan keamanan klien.
3. Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah.
Rasional : menurunkan resiko trauma pada mulut.
4. Letakkan klien di tempat yang lembut.
Rasional : membantu menurunkan resiko injuri fisik pada ekstimitas ketika kontrol otot
volunter berkurang.
5. Catat tipe kejang (lokasi,lama) dan frekuensi kejang.
Rasional : membantu menurunkan lokasi area cerebral yang terganggu.
6. Catat tanda-tanda vital sesudah fase kejang
Rasional : mendeteksi secara dini keadaan yang abnormal

Diagnosa Keperawatan/Masalah : Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan :Thermoregulation

Kriteria Hasil :
1. Suhu tubuh dalam rentang normal
2. Nadi dan RR dalam rentang normal
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
Rencana Tindakan : NIC : Fever treatment
1. Kaji faktor – faktor terjadinya hiperthermi.
Rasional : Mengetahui penyebab terjadinya hiperthermi karena penambahan
pakaian/selimut dapat menghambat penurunan suhu tubuh.
2. Observasi tanda – tanda vital tiap 4 jam sekali
Rasional : Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan
keperawatan yang selanjutnya.
3. Pertahankan suhu tubuh normal
Rasional : Suhu tubuh dapat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas, suhu lingkungan,
kelembaban tinggiakan mempengaruhi panas atau dinginnya tubuh.
4. Ajarkan pada keluarga memberikan kompres hangat pada kepala
Rasional : Proses konduksi/perpindahan panas dengan suatu bahan perantara.
5. Anjurkan untuk menggunakan baju tipis dan terbuat dari kain katun
Rasional : proses hilangnya panas akan terhalangi oleh pakaian tebal dan tidak dapat
menyerap keringat.
6. Atur sirkulasi udara ruangan.
Rasional : Penyediaan udara bersih.
7. Beri ekstra cairan dengan menganjurkan pasien banyak minum
Rasional : Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat.
8. Batasi aktivitas fisik
Rasional : aktivitas meningkatkan metabolismedan meningkatkan panas.


Diagnosa Keperawatan/Masalah : Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan keterbatasan
informasi
Tujuan : Pengetahuan: Proses penyakit
Kriteria:
1. Familiar dengan nama penyakit
2. Mendeskripsikan proses penyakit
3. Mendeskripsikan faktor penyebab
4. Mendeskripsikan faktor resiko

Rencana Tindakan : NIC : Ajarkan proses penyakit
1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga
Rasional : Mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki keluarga dan kebenaran
informasi yang didapat.
2. Beri penjelasan kepada keluarga sebab dan akibat kejang demam
Rasional : penjelasan tentang kondisi yang dialami dapat membantu menambah wawasan
keluarga
3. Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan.
Rasional : agar keluarga mengetahui tujuan setiap tindakan perawatan
4. Berikan Health Education tentang cara menolong anak kejang dan mencegah kejang demam,
antara lain :
a. Jangan panik saat kejang
b. Baringkan anak ditempat rata dan lembut.
c. Kepala dimiringkan.
d. Pasang gagang sendok yang telah dibungkus kain yang basah, lalu dimasukkan ke mulut.
e. Setelah kejang berhenti dan pasien sadar segera minumkan obat tunggu sampai keadaan
tenang.
f. Jika suhu tinggi saat kejang lakukan kompres hangat dan beri banyak minum
g. Segera bawa ke rumah sakit bila kejang lama.
Rasional : sebagai upaya alih informasi dan mendidik keluarga agar mandiri dalam mengatasi
masalah kesehatan.
5. Berikan health education agar selalu sedia obat penurun panas, bila anak panas.
Rasional : mencegah peningkatan suhu lebih tinggi dan serangan kejang ulang.
6. Jika anak sembuh, jaga agar anak tidak terkena penyakit infeksi dengan menghindari orang
atau teman yang menderita penyakit menular sehingga tidak mencetuskan kenaikan suhu.
Rasional : sebagai upaya preventif serangan ulang
7. Beritahukan keluarga jika anak akan mendapatkan imunisasi agar memberitahukan kepada
petugas imunisasi bahwa anaknya pernah menderita kejang demam.
Rasional : imunisasi pertusis memberikan reaksi panas yang dapat menyebabkan kejang
demam

D. Discharge Planning
1. Anjurkan minum obat sesuai waktunya, dan habiskan antibiotik
2. Anjurkan untuk cukup istirahat
3. Anjurkan untuk rileks dan kurangi aktifitas berat
4. Jika timbul demam berikan kompres atau teruskan asetaminofen
5. Anjurkan untuk banyak minum
6. Anjurkan untuk kontrol rutin.

DAFTAR PUSTAKA

Johnson., M. 1997, Nursing outcomes classification, Retrieved May 2004, from http://www.Minurse.com.

Lumbantobing, S. M. 1989, Penatalaksanaan mutakhir kejang pada anak, Gaya Baru, Jakarta.

McCloskey, J. C., & Bulecheck, G. M., 1996, Nursing intervention classsification (NIC). Mosby, St. Louise.

NANDA, 2002. Nursing diagnosis : Definition and classification (2001-2002), Philadelphia.

Ngastiyah. 1997, Perawatan anak sakit, EGC, Jakarta.

Santosa, N. I. 1989, Perawatan I : Dasar-dasar keperawatan, Depkes RI, Jakarta.

¬¬¬¬___________. 1993, Asuhan kesehatan dalam konteks keluarga, Depkes RI, Jakarta.

Soetjiningsih. 1995, Tumbuh kembang anak, EGC, Jakarta.

Sumijati, M.E, dkk, 2000, Asuhan keperawatan pada Kasus penyakit yang lazim terjadi pada anak, PERKANI, Surabaya.
Wahidiyat, I. 1985, Ilmu kesehatan anak, Edisi 2, Info Medika, Jakarta.