Senin, 19 Juli 2010

ASKEP ENSEFALITIS


ASUHAN KEPERAWATAN
ENSEFALITIS

PENGERTIAN
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS (Central Nervus System) yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang non purulent.

ETIOLOGI
1.      Penyebab terbanyak : adalah virus
2.      Sering : Herpes simplex , Arbo virus
3.      Jarang : Entero virus -Mumps, Adeno virus
4.      Post Infeksi : Measles, Influenza, Varisella
5.      Post Vaksinasi : Pertusis

PATOFISIOLOGI
Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara:
1.      Setempat:virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu.
2.      Penyebaran hematogen primer:virus masuk ke dalam darah
3.      Kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.
4.      Penyebaran melalui saraf-saraf  : virus berkembang biak di permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.
Masa Prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremintas dan pucat .
Gejala lain berupa gelisah, iritabel, perubahan perilaku, gamgguan kesadaran, kejang.
Kadang-kadang disertai tanda Neurologis tokal berupa Afasia, Hemifaresis, Hemiplegia, Ataksia, Paralisis syaraf otak.

MANIFESTASI KLINIS
1.      Panas badan meningkat ,photo fobi,sakit kepala ,muntah-muntah lethargy ,kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi mengenai meningen.
2.      Anak tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah laku. Dapat disertai gangguan penglihatan ,pendengaran ,bicara dan kejang.

PENGKAJIAN
Identitas
Umur : dapat menyerang semua kelompok umur.
Jenis Kelamin : tidak terdapat perbedaan.
Status ekonomi : sering terjadi keadaan nutrisi yang buruk, karena faktor ekonomi.
Lingkungan tempat tinggal yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan menunjang juga terjadinya penyakit ini.

Riwayat Keperawatan
Keluhan Utama :
Kejang-kejang dapat disertai dengan penurunan kesadaran,tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (kaku kuduk)

Riwayat Penyakit Sekarang
Anak menjadi lesu atau terjadi kelemahan secara umum, nyeri ekstremitas, mudah terangsang/irritable, demam (39°- 41°C), nafsu makan menurun, muntah-muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, pucat, gelisah,

Riwayat Penyakit Dahulu
Anak pernah menderita penyakit yan disebabkan oleh virus, seperti virus influenza, varisella,adenovirus, coxsachie, echovirus atau parainfluenza, infeksi bakteri, parasit satu sel, cacing, fungus, riketsia.

Riwayat Penyakit Keluarga
Anggota keluarga ada yang menderita penyakit yang dapat menular kepada anak.

Riwayat Tumbuh Kembang
Anak usia todler adalah masa anak mulai berjalan dan merupakan masa yang paling hebat dalam tumbuh kembang, yaitu pada usia 12-36 bulan. Pada usia ini anak mengeksplorasi secara giat tentang lingkungannya sepereti berusaha mengetahui bagaimana sersuatu bekerja, apa kata-kata dan bagaimana mengontrolnya dengan tuntunan, negativisme dan berkeras kepala.
Masa ini merupkan masa yang penting terhadap perkembangan kepandaian dan pertumbuhan intelektual.

Perkembangan Biologis
Rata-rata penambahan berat badan sekitar 1,8 – 2,7 kg atau kurang lebih 2,5 kg/tahun. Pada usia 2 tahun rata-rata BB 12 kg dan pada usia 2,5 tahun menjadi 4 kali berat badan waktu lahir. Penambahan TB juga melambat kurang lebih 7,5 cm/tahun.
Perekembangan fungsi Mental/intelektual mulai lahir – 2 tahun.
Pada masa ini anak berkembang dari aktif refleks ke pengulangan tingkah laku sederhana, anak juga mulai merasakan penyebab sesuatu dan akibatnya. Keingintahuan anak besar dan memcoba memperoleh kesenangan. Dan mulai menyadari dirinya dan obyek yang menarik diluar dirinya. Pada tahap akhir dari masa ini kemampuan bahasa anak mulai berkembang.
Perkembangan Psikososial/Emosional
Bayi setelah lahir tidak berdaya terhadap lingkungannya, sehingga ia harus dibantu untuk mempertahankan hidupnya, seperti sewaktu masih dalam kandungan dimana hidupnya secara teratur dan nyaman serta semua kebutuhannya dipenuhi.

Pola-pola Fungsi Kesehatan
1.      Pola persepsi dan tatlaksana hidup sehat
2.      Riwayat imunisasi yang telah diberikan
3.      Pola Nutrisi dan Metabolisme
4.      Terjadi perubahan dalam kebiasaan atau jenis makanan yang diberikan akibat dari kondisi penyakitnya

Pola Eliminasi
Terjadi perubahan dari karakteristik faeses dan urine (warna , konsistensi, bau), dapat terjadi inkontinensia atau retensi dari urin atau alvi, nyeri tekan abdomen.

Pola Tidur dan Istirahat
Anak menjadi mudah terangsang/irritable, terjadi kejang spastik, penurunan kesadaran (apatis-koma).

Pola Aktivitas
Dapat ditemukan gerakan-gerakan yang involunter, hipotonia, keterbatasan dalam rentang gerak, ataksia, kelumpuhan, masalah dalam hal berjalan atau keterbatsan akibat dari kondisi penyakitnya.

Pola Hubungan dan Peran
Terjadi perubahan status mental sehingga Pola Persepsi dan Konsep diri Pada anak usia Toddler tidak dapat diikuti

Pola Sensori dan Kognitif
Pada anak usia toddler dengan keadaan terjadi penurunan tingkat kesadaran terjadi penurunan status mental, bisa terjadi letargi sampai kebingungan yang sangat berat hinggga koma, delusi atau halusinasi/psikosis organik.

ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan : Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.
Tujuan :
1.      Pasien kembali pada keadaan status neurologis sebelum sakit
2.      Meningkatnya kesadaran pasien dan fungsi sensoris
Kriteria hasil :
1.      Tanda-tanda vital dalam batas normal
2.      Rasa sakit kepala berkurang
3.      Kesadaran meningkat
4.      Tidak ada atau hilangnya tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat.
Intervensi :
1.      Pasien bed rest total dengan posisi tidur terlentang tanpa bantal
Rasional : Perubahan pada tekanan intakranial akan dapat meyebabkan resiko untuk terjadinya herniasi otak
2.      Monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS.
Rasional : Dapat mengurangi kerusakan otak lebih lanjut
3.      Monitor tanda-tanda vital seperti TD, Nadi, Suhu, Respirasi dan hati-hati pada hipertensi sistolik
Rasional : Pada keadaan normal autoregulasi mempertahankan keadaan tekanan darah sistemik berubah secara fluktuatif. Kegagalan autoregulasi akan menyebabkan kerusakan vaskuler cerebral yang dapat dimanifestasikan dengan peningkatan sistolik dan diikuti oleh penurunan tekanan diastolik. Sedangkan peningkatan suhu dapat menggambarkan perjalanan infeksi.
4.      Monitor intake dan output
Rasional : Hipertermi dapat menyebabkan peningkatan IWL dan meningkatkan resiko dehidrasi terutama pada pasien yang tidak sadar serta nausea yang menurunkan intake per oral
5.      Bantu pasien untuk membatasi muntah, batuk. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas apabila bergerak atau berbalik di tempat tidur
Rasional : Aktifitas muntah atau batuk dapat meningkatkan tekanan intrakranial dan intraabdomen. Mengeluarkan napas sewaktu bergerak atau merubah posisi dapat melindungi diri dari efek valsava
6.      Berikan cairan perinfus dengan perhatian ketat
Rasional : Meminimalkan fluktuasi pada beban vaskuler dan tekanan intrakranial, vetriksi cairan dan cairan dapat menurunkan edema cerebral
7.      Monitor AGD bila diperlukan pemberian oksigen
Rasional : Adanya kemungkinan asidosis disertai dengan pelepasan oksigen pada tingkat sel dapat menyebabkan terjadinya iskhemik serebral
8.      Berikan terapi sesuai advis dokter seperti: Steroid, Aminofel, Antibiotika
Rasional : Terapi yang diberikan dapat menurunkan permeabilitas kapiler.
Menurunkan edema serebri
Menurunkan metabolik sel / konsumsi dan kejang.

Diagnosa keperawatan : Nyeri berhubungan dengan adanya iritasi lapisan otak
Tujuan : Pasien terlihat rasa sakitnya berkurang / rasa sakit terkontrol
Kriteria evaluasi :
1.      Pasien dapat tidur dengan tenang
2.      Memverbalisasikan penurunan rasa sakit.
Intervensi :
1.      Usahakan membuat lingkungan yang aman dan tenang
Rasional : Menurunkan reaksi terhadap rangsangan ekternal atau kesensitifan terhadap cahaya dan menganjurkan pasien untuk beristirahat
2.      Kompres dingin (es) pada kepala dan kain dingin pada mata
Rasional : Dapat menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah otak
3.      Lakukan latihan gerak aktif atau pasif sesuai kondisi dengan lembut dan hati-hati
Rasional : Dapat membantu relaksasi otot-otot yang tegang dan dapat menurunkan rasa sakit / disconfort
4.      Berikan obat analgesik
Rasional : Mungkin diperlukan untuk menurunkan rasa sakit

Diagnosa keperawatan : Resiko injuri berhubungan dengan adanya kejang, perubahan status mental dan penurunan tingkat kesadaran
Tujuan: Pasien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran
Intervensi :
1.      Monitor kejang pada tangan, kaki, mulut dan otot-otot muka lainnya
Rasional : Gambaran tribalitas sistem saraf pusat memerlukan evaluasi yang sesuai dengan intervensi yang tepat untuk mencegah terjadinya komplikasi.
2.      Persiapkan lingkungan yang aman seperti batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat pasien.
Rasional : Melindungi pasien bila kejang terjadi
3.      Pertahankan bedrest total selama fase akut
Rasional : Mengurangi resiko jatuh / terluka jika vertigo, sincope, dan ataksia
4.      Berikan terapi sesuai advis dokter seperti; diazepam, phenobarbital
Rasional : Untuk mencegah atau mengurangi kejang

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskulaer, penurunan kekuatan otot, penurunan kesadaran, kerusakan persepsi/kognitif
Tujuan :
Tidak terjadi kontraktur, footdrop, gangguan integritas kulit, fungsi bowell dan bladder optimal serta peningkatan kemampuan fisik
Intervensi :
1.      Review kemampuan fisik dan kerusakan yang terjadi
Rasional : Mengidentifikasi kerusakan fungsi dan menentukan pilihan intervensi
2.      Kaji tingkat imobilisasi, gunakan skala ketergantungan dari 0 – 4
Rasional : Kemungkinan tingkat ketergantungan (0) hanya memerlukan bantuan minimal (1)Memerlukan bantuan moderate (3) Memerlukan bantuan komplit dari perawat (4)Klien yang memerlukan pengawasan khusus karena resiko injury yang tinggi
3.      Berikan perubahan posisi yang teratur pada klien
Rasional : Perubahan posisi teratur dapat mendistribusikan berat badan secara menyeluruh dan memfasilitasi peredaran darah serta mencegah dekubitus
4.      Pertahankan body aligment adekuat, berikan latihan ROM pasif jika klien sudah bebas panas dan kejang
Rasional : Mencegah terjadinya kontraktur atau foot drop serta dapat mempercepat pengembalian fungsi tubuh nantinya
5.      Perawatan kulit secara adekuat, lakukan masasse, ganti pakaian klien dengan bahan linen dan pertahankan tempat tidur dalam keadaan kering
Rasional : Memfasilitasi sirkulasi dan mencegah gangguan integritas kulit
6.      Berikan perawatan mata, bersihkan mata dan tutup dengan kapas yang basah sesekali
Rasional : Melindungi mata dari kerusakan akibat terbukanya mata terus menerus
7.      Kaji adanya nyeri, kemerahan, bengkak pada area kulit
Rasional : Indikasi adanya kerusakan kulit

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Laboratorium UPF Ilmu Kesehatan Anak. 1998. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
Rahman M. Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium, Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.
Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta ,1993.
Sutjinigsih. 1995. Tumbuh kembang Anak. Jakarta. EGC

ASKEP DIARE


LAPORAN PENDAHULUAN
DENGAN KLIEN DIARE

DEFINISI
Diare adalah buang air besar (defekasi)  dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 cc/jam tinja). Dengan tinja berbentuk cair /setengan padat, dapat disertai frekuensi yang meningkat.
Menurut WHO (1980), diare adalah buang air besar encer lebih dari 3 x sehari.

ETIOLOGI
1.    Faktor infeksi :
Bakteri ( Shigella, Shalmonella, Vibrio kholera), Virus (Enterovirus), parasit (cacing), Kandida (Candida Albicans).
2.    Faktor parentral :
Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering terjadi pada anak-anak).
3.    Faktor malabsorbsi :
Karbihidrat, lemak,  protein.
4.    Faktor makanan :
Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran dimasak kutang matang.
5.    Faktor Psikologis :
Rasa takut, cemas.

PATOFISIOLOGI
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:
1.    Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2.    Gangguansekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.
3.    Gangguanmotilitasusus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare pula.

TANDA DAN GEJALA
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasanKussmaul).
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.    Riwayat alergi pada obat-obatan atau makanan
2.    Kultur tinja
3.    Pemeriksaan elektrolit; BUN, creatinine, dan glukosa
4.    Pemeriksaan tinja; pH, lekosit, glukosa, dan adanya darah

TERAPI MEDIS
1.    Penanganan fokus pada penyebab
2.    Pemberian cairan dan elektrolit; oral (seperti; pedialyte atau oralit) atau terapi parenteral
3.    Pada bayi, pemberian ASI diteruskan jika penyebab bukan dari ASI

BASIC PROMOTING PHYSIOLOGY OF HEALTH
Nutrisi
1.    Definisi
Proses pengambilan zat-zat makanan penting
2.    Nilai-Nilai Normal
Pengukuran berat badan ideal adalah mengacu ke berat lemak tubuh, yaitu :
Body Mass Index (BMI) = berat badan (kg) dibagi tinggi badan (meter) kuadrat, di mana nilai :
18-24.9 = berat normal
25-29.9 = kelebihan berat
30-34.9 = obesitas kelas 1
35-39.9 = obesitas kelas 2
>40 = obesitas ekstrim
3.    Pengkajian
a.    Data dasar nutrisi
o   Fisiologis
o   Psikologis
o   Sosio budaya
o   Perkembangan
o   Spiritual
b.   Mengkaji status nutrisi dengan “ABCD”
A  :  Antropometri measurement
B  :  Biochemical data
C  :  Clinical sign
D  :  Dietary history
c.   Status nutrisi ditentukan
o   Ada dan berapa banyak yang dimakan. Bagaimana kualitas zat gizi
o   Kemampuan tubuh untuk menggunakan zat gizi
o   Keadaan individu sebagai akibat dari intake nutrisi
4.    Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Intake nutrisi yang adekuat
5.    Intervensi Keperawatan
1.    Kaji faktor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum
2.    Hitung kebutuhan nutrisi perhari
3.    Observasi tanda-tanda vital
4.    Catat intake makanan
5.    Timbang berat badan secara berkala
6.    Kolaborasi dengan ahli gizi

Cairan, elektrolit dan asam basa
a.    Definisi
     Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Keseimbangan cairan adalah esensial bagi kesehatan. Dengan kemampuannya yang sangat besar untuk menyesuaikan diri, tubuh mempertahankan keseimbangan, biasanya dengan proses-proses faal (fisiologis) yang terintegrasi yang mengakibatkan adanya lingkungan sel yang relatif konstan tapi dinamis. Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan ini dinamakan “homeostasis”.
b.   Nilai-Nilai Normal
Umur
ml
ml / kg BB
3 hari
2500 – 3000
120 – 135
1 tahun
1150 – 1300
120 – 135
2 tahun
1350 – 1500
115 – 125
4 tahun
1600 – 1800
100 – 110
10 tahun
2000 – 2500
70 – 85
14 tahun
2200 – 2700
50 – 60
18 tahun
2200 – 2700
40 – 50
Dewasa
2400 – 2600
20 – 30

c.   Pengkajian
Observasi / temuan :
1.    Nadi cepat dan lemah
2.    Tensi darah menurun
3.    Kulit dingin dan lembab
4.    Diare
5.    Kembung
6.    Otot lemah
7.    Aritmia
8.    Bisisng usus menurun
9.    Kesemutan pada jaringan dan mulut
10. Oliguria
11.  Respiration rate menurun
d.   Pemenuhan Kebutuhan Dasar
Pengeluaran cairan dan elektrolit yang adekuat.
e.    Intervensi Keperawatan
1.    Kaji terhadap tanda dehidrasi
2.    Pertahankan cairan parenteral dengan elektrolit
3.    Ukur masukan dan haluaran
4.    Pantau tanda vital setiap jam
5.    Kolaborasi

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare atau output berlebihan dan intake yang kurang
2.    Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare.
3.    Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi skunder terhadap diare
4.    Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekwensi diare.
5.    Resiko tinggi gangguan tumbuh kembang berhubungan dengan BB menurun terus menerus.

RENCANA KEPERAWATAN
1.    Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan skunder terhadap diare
     Intervensi :
a.    Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
Rasional : Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk memperbaiki defisit
b.   Pantau intake dan output
Rasional : Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
c.   Timbang berat badan setiap hari
Rasional : Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt
d.   Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
e.    Kolaborasi :
1)     Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
Rasional : Koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).
2)    Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
Rasional : Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
3)     Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
Rasional : Anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.

  2.        Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak adekuatnya intake dan out put
Intervensi :
a.    Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
Rasional : Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.
b.   Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau  yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
Rasional : Situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
c.    Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
Rasional : Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan
d.   Monitor  intake dan out put dalam 24 jam
Rasional : Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
e.    Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
o   terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu
o   obat-obatan atau vitamin ( A)
    Rasional : Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan.

  3.      Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder dari diare
Intervensi :
a.    Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
Rasional : Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh (adanya infeksi)
b.   Berikan kompres hangat
Rasional : merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh
c.   Kolaborasi pemberian antipirektik
Rasional : Merangsang pusat pengatur panas di otak

  4.      Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan dengan   peningkatan frekwensi BAB (diare)
       Intervensi :
a.    Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur
Rasional : Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman
b.   Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)
Rasional : Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces
c.   Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
Rasional : Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan irirtasi .

DAFTAR PUSTAKA
Bates. B, 1995. Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan.  Ed 2. EGC. Jakarta
Carpenitto.LJ. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6. EGC. Jakarta.
Lab/ UPF IKA, 1994.  Pedoman Diagnosa dan Terapi .  RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.
Markum.AH. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Ngastiyah. 1997.  Perawatan Anak sakit. EGC. Jakarta
Soetjiningsih, 1995.  Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta
Suryanah,2000.  Keperawatan Anak.  EGC. Jakarta
Doengoes,2000. Asuhan Keperawatan Maternal/ Bayi. EGC. Jakart